How 'IGOS' are you? (Seandainya ada pertanyaan buat pemerintah)

0

Seandainya pemerintah telah melakukan negosiasi dengan perusahaan software tertentu untuk memberikan pemutihan terhadap jutaan komputer yang ada di instansi pemerintah dengan membayar sebesar 1USD per unitnya. Selain itu pemerintah juga menjadikan pemilik perusahaan software tertentu tersebut sebagai penasihat untuk urusan IT di Indonesia dan memberikan beberapa hektar tanah untuk digunakan sebagai Research Centernya di Indonesia.

Seandainya, kebijakan ini bertolak belakang dengan program Pemerintah IGOS (Indonesia Goes Open Source). Tatkala masyarakat dituntut untuk lebih memperkaya pengetahuannya dengan memanfaatkan keterbukaan yang dimiliki oleh Open Source, sementara pemerintah malah merelakan 1USD untuk tiap PC yg ada di instansinya agar tetap dapat menggunakan sistem operasi dari perusahaan software tertentu tersebut. Bayangkan ada berapa juta PC yang harus dibiayai pemerintah yang notabene uangnya sendiri diambil dari uang yang disetorkan rakyat untuk meningkatkan kesejahteraannya?

Seandainya pemerintah mau sedikit merendahkan diri dengan mempelajari konsep IGOS yang mereka tawarkan tentunya hal ini tidak akan terjadi. Seberapa optimal sih pemanfaatan komputer di instansi pemerintah saat ini? 90% penggunaan komputer di instansi saat ini tidak lain hanya untuk keperluan berupa wordprocessor & spreadsheet saja, hanya 10% sisanya digunakan sebagai integrated PC dimana dibutuhkan tailor-made software sebagai penggeraknya (software yg dipesan secara khusus terhadap programmer tertentu)

Seandainya pemerintah mengalihkan 90% pcnya tadi untuk menggunakan software Open Source sebagai basis operasinya, berapa banyak dana yang bisa di tabung, berapa besar dana yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat? toh seandainyapun 50% dari dana tersebut digunakan untuk mengembangkan program IGOS yang telah berjalan tentunya tetap masih ada sedikit uang buat rakyat?

Seandainya, ada orang-orang tidak bertanggungjawab menyusupkan sedikit saja baris perintah didalam software buatan perusahaan software tertentu tersebut didalam komputer instansi pemerintah untuk mengirimkan data penting didalam komputer tersebut keluar, berapa besar kerugian Indonesia. Seberapa yakin kita atas keamanan data kita, sedangkan kita sendiri tidak dapat melihat baris-baris perintah didalam instruksi sistem operasi mereka yg bersifat Close Source yg kita hanya menerima software jadinya saja dan tidak dapat melihat apa saja isi software tersebut secara detail?

Seandainya pemerintah benar-benar menahkodai IGOS untuk membuat sofware-software yang salah satunya dibuat dengan tingkat security yg tinggi sebagaimana negara lain, sebagaimana kita lihat di film-film tentunya tidak akan ada keriskanan terhadap data-data penting, ketakutan akan menyebarnya informasi penting pemerintah, ketakutan akan virus yg baru-baru ini menyerang sistem operasi perusahaan software tertentu tersebut yang bahkan sampai membuat banyak perusahaan back to nature dengan hanya menggunakan mesin tik dan ketakutan lainnya.

Seandainya...seandainya...................mungkin hanya itu yang bisa penulis renungkan....namun setitik harapan masih tetap ada, IGOS toh sudah bergulir, software WaroengIGOS yg bisa dimanfaatkan warnet-warnetpun telah tercipta, tinggal kemauan pemerintah untuk tidak sekedar 'mendukung' terbentuknya IGOS, tetapi 'turut serta'. Allahualam.

Penutup
Tulisan ini bukan berarti benar adanya, tulisan ini hanya merupakan andai-andai....Penulis tidak ada niatan menyerang ataupun membela terhadap produk tertentu dan penulis juga tidak mengklaim mengetahui apa yg direncanakan dan sedang dilaksanakan pemerintah....penulis hanya berandai-andai....ya, hanya berandai-andai....nothing else.
Wassalam

- Zarathustra -

Comments

Comment viewing options

Select your preferred way to display the comments and click "Save settings" to activate your changes.

IGOS?

saya sudah pake IGOS, dan nyaris ngga bisa berkomentar..
basisnya fedora (harus PIII keatas,memori >= 128MB), rakus memori (hampir semuanya kepake), aplikasi lambat, tampilannya jelek, terlalu dipaksain ke-indonesiaannya (malah kelihatan konyol), dan susahnya lagi, monitor lama ngga bisa kepake.
lebih terkesan ngga niat, mungkin juga karena dana nya kurang, gebetannya sedikit, kalopun ada yang beli juga cuman dikit, mungkin lebih tepat kalo pemerintah menganggap ini proyek merugi.
kalo dah gini, siapa juga yang mau ikut2an? Lha dana proyek nya cuma dikit, malah bisa dibilang ikut nombok.

Igos Laba-laba Billing help...

Saya dah coba install billing igos laba-laba di knoppix+ltsp.
Saya bingung nginstallnya.
Waktu keluar pertanyaan password root mysql isinya apa yah...
Trus...Tambahkan di PreSession script utk tiap user :
lynx http://192.168.0.253/insert_ticket.php?p_ws=$USERNAME
File insert_ticket.php nya ada dimana?

Buat yg udah nyobain billing igos laba-laba dan juga billing ltsp_phpsicafe, tolong dong dishare.
Biar yg bego2 kayak gue bisa install...

Terima kasih.

Re: Igos Laba-laba

Mau sekedar sharing..root password utk mysqld itu default nya adalah BLANK, jadi tekan ENTER saja.
IGOS Laba-laba di design menggunakan ubuntu yg Desktop Manager nya pakai Gnome. Presession itu mirip seperti autoexec.bat kalau di DOS dulu. Lokasinya ada di /etc/gdm/presession, kalau pakai KNOPPIX yg menggunakan KDE, tambahkan saja di file /etc/kde3/kdm/Xsession di baris paling bawah :
/usr/bin/lynx http://192.168.0.253/insert_ticket.php?p_ws=$USERNAME

Dan di file /etc/kde3/kdm/Xreset :
lynx http://192.168.0.253/bina_logoff.php?terminal=$USERNAME

catatan : sesuaikan ip address nya dgn alamat server yg dipakai.

^ GaPras ^
~~~~~~~~~~~

RE: Igos Laba-laba di gdm

Penjelasannya cukup jelas dan bisa dimengerti.
Tapi ada sedikit yg agak ragu2 nih...
Karena penasaran, saya rubah login manajer knoppix pake gdm.
Saya buka /etc/gdm/presession dan isinya hanya file default.
Nah...apakah saya harus buat file baru yg isinya:
lynx http://192.168.0.12/insert_ticket.php?p_ws=$USERNAME
Dan nama filenya apa boleh sembarangan.
Atau saya tambahkan ke dalam file default.

Terima kasih lagi g4pr4s

Re: Igos Laba-laba di GDM

Nggak usah diganti mas, cukup ditambahkan saja isi file /etc/gdm/PreSession/default di baris paling bawah :
exec /usr/bin/lynx "http://192.168.0.12/insert_ticket.php?p_ws=$USERNAME "

Kemudian command utk logoff nya, di edit file /etc/gdm/PostSession/default, tambahkan :
exec /usr/bin/lynx "http://192.168.0.253/bina_logoff.php?p_ws=$USERNAME"

^ G4pr4s ^
~~~~~~~~~~

re IGOS?

wah wah....yang dari IGOS kan ga cuman fedora mas..ada yang knoppix juga........trus yang laba-laba juga bukan fedora, jadi diantara beberapa pilihan ya sesuaikan dengan resource yang dimiliki, kalo emang spec hardwarenya ga bagus trus kenapa juga masih nekad pake yang fedora, trus kesalahannya ada pada siapa tuh?
Monitor lama ga bisa dipakai? lha yo tinggal di setting tow? itu bukan ga bisa dipakai, itu hanya butuh settingan manual.Dan jika memang anda tidah tahu silahkan bertanya....
MEnding sampeyan ikut berpartisipasi ajah gitu,kalo udah tahu dananya cuman sedikit ya mereka perlu orang -orang seperti anda yang rela mengikhlaskan waktunya untuk kepentingan nusa bangsa dan negara,ya daripada kita hanya ngomel saja tunjukin dong wujud n dari semua unek-unek dengan perbuatan yang nyata.

Setuju Mas

Kalo orang bisanya cuma kritik dan kritik doang, punya minim tapi mau yang maxi mending ke-laut aja. udah bagus ada IGOS dan saya pribadi bangga kok make-nya buat saya ini udah cukup sempurna dan user friendly, kalo mas-mas yang bisanya cuma nyalhin dan kritik-kritik yang jelas gak ngebangun terbukti bukan linuxer sejati ..
Saya bangga dan salut sama pemerintah yang udah ngedukung program ini. kalo mas-mas yang kritik-kritik tadi bisa buat yang lebih keren dan pas ya terima kasih karena LINUX itu untuk semua

thanks... semoga tersinggung

Pemakaian software open

Pemakaian software open source itu murah di awalnya (instalasi, distribusi, dsb) tapi mahal dibelakangnya (maintenance, pelatihan, dsb).
Langkah pemerintah membayar 1 USD per komputer itu lebih baik dan lebih murah daripada migrasi total ke Open Source namun dengan berbagai ketidakpastian (maintenance, technical support, training, dsb).

Bagi pengguna biasa yang tidak dibebani oleh tanggung jawab pekerjaan (seperti pekerja kantor, dsb), tentu OK-OK saja untuk migrasi ke Linux dan mampu meluangkan waktu untuk belajar.

Itu semua hanya pengandaian, bila pemerintah tidak jadi membayar US$ 1 dan lebih memilih migrasi ke Open Source

beli vs. open source?

andai...
andai emang bener dikasih $1 per pc.
itu khan baru OS windowsnya aja.
blom aplikasi2 laen (office, photoshop, server, sql, dsb..)
yg kalo di total2 bisa2 berkali2 lipat harga pc.

trus, kata siapa kalo bayar bisa dapat support lebih bagus?
anda bayar windows apa berarti anda merasa aman berinternet?
(bebas dari spyware/virus/etc...)????

support apa dari M$ untuk anda agar lebih aman menggunakan pc anda?

bandingkan support komunitas open source.
ada menemukan bug pada program yg anda pakai,
anda laporkan ke komunitas.
mungkin beberapa jam saja udah ada yg bikin patch/update untuk bug tsb.

atau misal ada virus baru,
anda lapor aja ke komunitas di clamav yg bikin antivirus gratisan.
paling lama juga sehari udah ada update baru untuk antivirus tsb.

ada gak support yg lebih bagus?

http://www.NGoBRoL.com

re: Pemakaian software open

Saya juga orang kantoran, memang tak bisa pake yang rumit-rumit.
Tapi liat tuh linux, waahh kagum banget saya.....
Bayangin aja, bisa njalanin GUI pake disket.
PC tua nyang layaknya di-kilo-kan, bisa dipake lagi.
dsb... dsb...
Ingin rasanya migrasi 100 % ke linux.
Server ok... Office ok... Internet ok... multimedia ok....
Tapi... gimana ya ? spy saya dapat migrasi dari vb (visual basic) 100 %
Tolong dong para sesepuh, kasih solusi yang easy gitu.
Biar saya dapet bikin program, paket instalasinya, lalu install ke komputer linux laen, ya.. kayak vb itu. Bisa nggak ya.. ?

Thank's

Re: Pemakaian software open source

Memang dengar-dengar ada program $1 untuk setiap software bajakan di kantor pemerintah (http://news.bbc.co.uk/1/hi/technology/4076982.stm)
tapi Microsoft membantah tuh (http://seattletimes.nwsource.com/html/businesstechnology/2002323655_webm...).

IMHO: Kita harus bener-bener (sekali lagi: bener-bener) hitung-hitungan.
Apa untung ruginya. Kalau memang setelah dihitung-hitung ternyata pake
Windows + Aplikasinya jauuuuh lebih menguntungkan, ya pake-lah.

Yang saya heran orang Jerman yang terkenal paling hitung-hitungan, justru migrasi ke Linux. Hitung-hitungan orang Jerman salah kali ya?
Atau kitanya yang belum pandai berhitung.

re pemakaian software opensource

kalo soal maintenance semua butuh juga loh.........kalo training...adikku yang baru lulus sd yang notabene bahkan ga pernah megang operating system lain dikasih aplikasi opensource ga sampai 1 hari bisa tuh........apalagi seorang pegawai kantor pemerintahan, tentunya kalo mereka punya niat....lha wong sampai sekarang masih banyak pegawai yang mungkin sudah sepuh pake os "jendela" ajah kagak bisa juga, trus sebenernya substancynya dimana?
Tentu kita tidak boleh meremehkan kemampuan pegawai pemerintah,tentu saja masuk pns juga susah loh....
Tapi tidak bisa dipungkiri jika mereka malas belajar ya kapan bisa?
Sekarang adalah masalahnya kebiasaan.

Dan mungkin saya pribadi termasuk type orang2 jerman yang setelah menghitung hitung memakai aplikasi opensource bagi saya sangat jauh lebih efektif dan murah dibandingkan yang closed source.
Dan karena saya type yang seneng belajar dan ingin maju ya ga ada salahnya ilmu saya bertambah dengan belajar dan terus belajar aplikasi opensource

siapa yang jamin ?

mengutip dari isi tulisan :
"Seandainya pemerintah mengalihkan 90% pcnya tadi untuk menggunakan software Open Source sebagai basis operasinya, berapa banyak dana yang bisa di tabung, berapa besar dana yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat? toh seandainyapun 50% dari dana tersebut digunakan untuk mengembangkan program IGOS yang telah berjalan tentunya tetap masih ada sedikit uang buat rakyat?"

saya cuman mau berkomentar, mohon maaf sebelumnya bila saya salah, bila memang ada dana yang bisa di-save, bisa ditabung, siapa yang berani jamin kalo uangnya akan digunakan untuk pengembangan lebih lanjut semaksimal mungkin atau uangnya akan dimanfaatkan untuk kebutuhan rakyat ? ah, kayak ngga tahu pemerintahan RI aja .... :-))

apa iya semua uangnya akan dikasih ke programmer2 indonesia utk menciptakan iklim software yang lebih baik di negeri ini ? kayak ngga tahu pejabat2 RI aja ..... :-))

mungkin ( mungkin lho ya ) justru lebih baik kalo uangnya digunakan utk melobi "redmond" agar bisa digunakan lebih baik utk rakyat kita, karena dengan demikian setidaknya kita tahu ada sebagian uang negara yang digunakan oleh pemerintah utk kebutuhan kita dan rakyat lainnya.

yang paling tepat adalah, bukan membenahi yang sudah ada sekarang, semua kayaknya sudah agak terlambat, agak sulit memigrasikan sekian banyak user ke Linux dengan berbagai macam usia dan latar belakang user. Ciptakan generasi masa depan yang akan memulai pake iklim open source, seperti poster di atas yang kasih Linux utk adiknya yang masih SD. Sulit kalo di lembaga pendidikan dan sekolah masih diberikan iklim "redmond", nantinya ya mereka akan butuhnya "redmond" di dunia kerja, dan ya seperti generasi sekarang ini.

Sebenarnya, kenapa sich banyak orang pake "redmond" ? murah ? ngga ah, Linux kan gratis. Gampang ? ngga juga kan, kalo hanya utk kebutuhan desktop sehari2 ( kecuali kalo misalnya ingin lebih lanjut, seperti install dll )Linux juga gampang toh ? Menarik ? sama menariknya, lagipula kalo ini hal selera. Lalu ? ya karena pada diajarin pake "redmond", di dunia kerja lebih banyak yang butuh "redmond".

Maka, mulailah iklim OSS, dimulai dari sekolah yang mengajarkan komputer kepada siswanya, ........bikin gerakan nasional yang tentunya melibatkan seluruh sekolah negeri. Mungkin sekolah swasta akan mengikuti jejak ? Kalo semua SDM masa mendatang pada bisanya OSS, ya tentu dunia kerja dan kantor2 juga akan senang hati terima mereka yang pake OSS.

Sulit memang kalo ingin mematahkan dominasi "redmond" , karena dia "mateng" duluan, lebih banyak penggunanya, sehingga support juga lebih banyak, walhasil tentu akan menelurkan lebih banyak lagi penggunanya, dibanding pengguna OSS yang bila kebingungan lalu bertanya tapi keseringan dapet jawaban yang tidak memuaskan. Dengan distro yg katanya sudah berjumlah ratusan, tentu menambah semakin sulitnya user mendapatkan bantuan.

Si "A" sangat "master" di distro "X", ........ketika ada user yg pake distro pilihannya, misal distro "B" yg mungkin tidak seterkenal distro "X" bertanya kepada si "A", si "A" tentu tidak bisa langsung jawab klik ini, liat ini, pilih ini, dsb. Apa iya distronya sama ? belon tentu...........sesuatu hal yang jarang terjadi di OS "Redmond", karena dari satu versi ke versi lainnya paling2 cuman beda tempat setting.

Contoh aja, ini saya lagi bingung mau konek network LAN, ada LISadaemon, ada samba. Gimana caranya ya ? di konqueror ketik smb:/, dibilang protocol not supported. LISadaemon dibilang belum diaktifkan. Ada yang bisa bantu ?

Mohon maaf sebesar-besarnya bila ada salah dan terima kasih.

Re: siapa yg jamin?

Masalah hitung menghitung ada sedikit perbedaan antara pemerintah Jerman dengan Indonesia, klo di Indonesia 1 + 1 belum tentu hasilnya 2 karena harus ada mark-up didalamnya.....Just kidding......

Masalah jamin menjamin memang tidak ada yg bisa melakukannya mas, semuanya kembali kepada niat tulus pemerintah kita sendiri, apakah mau terus begini ataukah mau membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju?????

Memang cara paling efektif adalah mempersiapkan generasi yg akan datang untuk menjadi Open Source Generation karena pada praktiknya memang sulit untuk lebih meng-Open Source-kan generasi yg sudah terlanjur "Redmond" Minded. Tetapi bagaimana bisa terjadi proses kaderisasi terhadap generasi baru apabila generasi lama tidak memiliki inisiatif untuk memulainya terlebih dahulu, seberapa jauh sih buah kelapa jatuh dari pohonnya? paling cuma satu dua yg bisa lebih jauh, itu juga dengan mengharapkan adanya ombak......

Memang permasalahan banyaknya distro yang beredar membuat 'headache' tersendiri, namun hal ini bisa teratasi apabila pemerintah bisa menawarkan software yg 'lebih' dibandingkan distro-distro yang lain yg tentunya secara tidak langsung akan membuat standarisasi distro minimalnya untuk rakyat Indonesia. In logic-nya begini mas, distro-distro yg dibuat oleh developer independent yg minim dana aja bisa sebagus itu apalagi distro yg benar-benar didanai pemerintah (itu juga klo pemerintah benar-benar berniat tulus dan meberikan maksimal support, ga tau deh untuk pemerintah Indonesia)

Untuk masalah Samba (menurut saya lebih bagusan pake samba soalnya semua distro pasti mendukung protocol ini, tidak seperti LISAdaemon), ga terlalu sulit kok mungkin mas bisa liat dari blog-blog di Linux.or.id sebelumnya. Mungkin sedikit gambaran memang 'first-time installation' linux tuh banyak yg tidak menyediakan samba sebagai defaultnya dan malah beberapa terbentur sama firewall yg default terpasang tergantung distro yang digunakan. So, tinggal oprek-oprek di dua kemungkinan tadi, apakah belum terinstall samba servernya ataukah sudah terinstall namun terbentur firewallnya. Met berlinux ria.

- Zarathustra -

Re: How 'IGOS' are you? Saran terbuka buat aktivis Linux.or.id..

Sedikit saran terbuka buat tim Linux.or.id & KLPI mengenai How IGOS are you..

Mungkin proses kaderisasi "Open Source Generation" ini bisa sedikit terbantu apabila Linux.or.id bisa memberikan 1 subdomain/kolom/link atau apalah istilahnya yg berisi daftar sekolah-sekolah yg menggunakan linux sebagai media pembelajaran mereka dan selain itu mungkin KLPI bisa sedikit memberikan pencerahan kepada sekolah- sekolah agar mau dirangkul dan terbuka pemikirannya untuk menciptakan generasi "Open Source" dan mungkin memberikan sertifikasi kepada sekolah-sekolah yg menjadi pengusung "Open Source Implementation". setidaknya sambil menunggu pemerintah tersadar dari mimpi panjangnya, penciptaan generasi "Open Source" bisa terus berjalan.....Yah ini sih cuma pemikiran sepintas dan pembentukan "Open Source Generation" tidak semudah membalikkan telapak tangan tapi sapa tau pemikiran ini bisa bermanfaat, sapa tau......Wassalam

- Zarathustra -

to all

sebenarnya yang jadi masalah bagi para user baru adalah karena kagak BI@SA @JA.jika dulu kita baru kenal windows aja bingung sama aja dengan klo kita ketemu linux untuk yang pertama kali,KLO mau itung itungan lha wong kita yang satu beli juga masih belajar yang atunya open source(gratis)belajar lagi, bearti kita masih untung dong,belun lagi klo kita butuh application lain yang harus kita butuhkan dan itu kita harus beli,yang atunya tinggal download aje/beres.MUNgKIN SUDAH WAKTUNYA KITA MULAI dari diri sendiri untuk mencoba.terus maju para linuxer.

Bisa KareNa TerBiasa

menilik baris tersebut seharusnya semua bisa kalau terbiasa.
point keterbiasaan ini lah sebagai kunci yang di gunakan software propertiery. mereka tahu bahwa kita bangsa yang manja, dikit-dikit protes tanpa mau mencari lebih dahulu.

ya... nggak jauh-jauh dikantor kita aja klo error dikit protes tanpa mau mencoba meluangkan waktu belajar.

mau license atau open source nggak masalah yang penting ada nggak duitnya untuk beli....:D