Analogi Ayam Goreng Kakek Ba'i

0

Selekit kakek Ba'i dalam obrolan kemarin denganku masih menggema:
"Oh, jadi gerakan Software bebas itu ibaratnya sekelompok orang yang gotong royong pelihara ayam plus bumbu-bumbunya di halaman rumah. Terus kalau lagi suka, digoreng beramai-ramai, dinikmati bersama-sama. Trus ada lagi sekelompok orang lainnya sudah terbiasa dengan ayam goreng Franchise Amerika. Pokoknya harus ayam Amrik, biarpun dapaetnya hanya dari mengais-ngais tempat sampah restoran franchise."
Trus ada sekelompok lagi yang ingin menikmati ayam goreng hasil gotong royong, tapi hanya nanya-nanya dari jauh: 'Hoee, sudah kelar digoreng belon?' Kalau sudah digoreng mereka beramai-ramai datang makan bersama juga. Tapi langsung komentar: ini ayam gorengnya nggak seenak yang franchise!!"

Ba'i adalah sebutan untuk kakek dalam dialek di Timor. Aku memanggilnya kakek Ba'i karena merasa Ba'i kedengaran seperti sebuah nama. Tidak enaklah memanggil orangtua pake nama. Jadinya memang agak rancu.
Ia suka datang ngobrol denganku sambil menyeruput kopi bersama. Kebetulan ia melihat tampilan desktop-ku yang lain dari yang pernah ia lihat. Kelihatan lebih canggih karena ada 3D desktop switching-nya. Ia penasaran.
Lalu obrolanpun nyasar ke masalah Linux dan Free Software. Aku bersemangat memaparkan visi misi free software seperti mau pilkada. Beliau mendengarkan dengan antusias. Itu yang bikin aku tambah semangat.
Lalu tanpa sengaja aku menyitir analogi bung Noprianto di majalah Infolinux. Bahwa Linux itu ibarat ayam goreng yang cita rasanya bisa kita atur sesuai selera kita masing-masing. Tapi celekitan kakek Ba'i itu membuatku miris. Kakek Ba'i membawa analogi itu agak lebih jauh, dan menikam hati.

Sangat banyak ramuan ayam goreng kita, dan kalau banyak orang tidak sama selera tidak ada yang salah dengan itu, kan?
Bagaimana kalau kita sama-sama partisipasi memelihara ayam dan tanaman bumbu-nya?
Daripada hanya mengeluh: ini kok tidak sama rasanya dengan ayam Amrik?

Tidak untuk menggurui, hanya mengajak merenung.

Comments

Comment viewing options

Select your preferred way to display the comments and click "Save settings" to activate your changes.

Jadi pengen makan ayam mbok

Jadi pengen makan ayam mbok berek,
uenak pisan,
sayang mahalnya melebihi ayam Amrik :-(

Bukan Sekedar Rasa

menggelitik juga isinya.....
pembuatan ayam goreng bukan hanya sekedar rasa saja menurut saya, untuk sebagian besar masyarakat indonesia saat ini selain rasa masih ada faktor lain yang lebih penting untuk diperhatikan dalam pembuatan ayam goreng tersebut....seperti misalnya cara pemotongan ayamnya, bumbu-bumbu dasarnya apakah telah telah diijinkan oleh pihak terkait, bebas dari AI, dll.
Mungkin masih ingat dalam beberapa waktu yang lalu ada salah satu bumbu penyedap yang keberadaannya dilarang oleh suatu lembaga daerah, namun hal tersebut dibantah oleh lembaga pusatnya, kadang hal ini yang hanya membuat bingung masyarakat apakah ini aman untuk dikonsumsi atau tidak.
Untuk rasa itu hanya selera masing-masing individu dan seberapa sering dia merasakan ayam goreng tersebut apalagi ayam goreng indonesia terkenal bukan hanya rasa namun hidangan pendukungnya seperti sambal, lalapan, dll dimana hal ini tidak dapat ditemui di tempat punjual ayam goreng amrik.
Terlebih penting adanya dukungan dari semua pihak bahwa ayam goreng beserta bumbu-bumbu buatan indonesia aman untuk dikonsumsi / digunakan